Skip to main content

Posts

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Hei, sudah berapa ember yang rusak kalian gunakan untuk menguras genangan air yang membuat corak biru raksasa di wajah bopeng bumi ini? Hingga dua nol dua nol yang kujumpai dari satu sembilan sembilan tujuh kala sebersit cahaya masuk melalui lubang sempit yang menuntunku menuju kehidupan busuk ini bahkan seperseratus juta lima ratus dua puluh tiga nya saja belum terkuras setetes pun itu comberan jernih nan bening. Apakah kalian terlihat akrab dengan analogi itu? Ya. Perkenalan pertama ku dengan beliau tak terjadi secara langsung sekitar dua tahun lalu kurang tiga bulan mungkin. Melalui tulisan mbak Butet Manurung di Mojok.co mengenai sabunisasi orang Papua. Kalian bacalah sendiri itu tulisan bangsat yang menginjak harga diriku sebagai so called pahlawan yang mengabdi. Pemikiran beliau secara tersirat tertuang dalam coretan mbak Butet itu. Mulailah aku sering berjumpa beliau walaupun menyapapun tak pernah berani kulakukan. Cukup meliriknya dari jauh dengan jantung berdebar bak...

Republik Dagelan: Mari Belajar Untuk Sakit

Ada Corono, buka wisata. WHO mengabari, malah stand up comedy. Bukannya melakukan pencegahan, asyik slengean. Pancasila itu tidak ada. Buktinya nyawa digadaikan dengan wisata. NKRI harga investasi. Tidak sedikit sakit yang dapat kita petik kali ini berupa sakit fisik, sakit mental, sakit finansial, pun sakit hati bak dikhianati kekasih hati. Fisik sakit dikerubuti virus, mental bobrok yang berada di garda terdepan milik para elit yang menganggap hidupnya lebih berfaedah dari orang lain serta kebanyakan manusia sehingga dengan bangga mengajukan diri untuk mendapatkan pemeriksaan terlebih dahulu. Pandemi yang menyerang tanpa diskriminasi ini bahkan lebih paham HAM dibandingkan penanganan dengan cara-cara diskriminatif. Intinya orang miskin dilarang sakit. Rakyat biasa masih harus luntang-luntung menyelamatkan finansialnya sampai tak terpikirkan nyawa dalam tubuhnya. Bahkan anjuran #dirumahaja akan sulit dicerna bagi mereka pekerja informal serta buruh kerah biru yang be...

Manusia Sombong Berencana, Tuhan Kuasa Menentukan

Masih nikmat bergelut dengan tahun dua nol satu sembilan, bahkan dua bulan masih tersisa bagi manusia gondrong berpenampilan tak menarik sepertiku. Anggap saja delapan minggu masih harus dilalui, sekitar 60 hari musti ditapaki, dan ribuan jam yang malas kuhitung wajib dijalani. Namun, setumpuk project untuk tahun dua nol dua nol telah menggunung sebagaimana baju-baju kotor milikku yang selalu kulempar menuju ember sudah menghampiri. Yang nantinya dicuci mamakku. Jangan terlalu berpikir positif bahwa aku yang akan mencucinya. Pengabdi rebahan yang berlagak punya banyak kegiatan seabrek ini berusaha seminimal tenaga menjalani berbagai tanggungjawab project yang diterimanya. Meskipun jarak menuju waktu kegiatan masih begitu jauh. Bisa dikatakan masih berada di Kota Sabang apabila kita misalkan sedang melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dari ujung barat ke ujung timur. Tapi ya begitulah manusia sombong dengan segala tetek bengek rencananya termasuk pria berambut panjang tak t...

Kompetisi : Kowe Pilih Sing Ayu to!

Kupikir aku tidak akan memenuhi ajakan temanku beberapa waktu lalu untuk membantu di TPA LB (Taman Pendidikan Al Quran Luar Biasa) tempat dia mengajar. Setelah seharian berkeliling kota. Dari barat ke timur, lalu ke utara dan kembali. Lelah dan kantuk menyerang. Membuatku malas untuk beranjak dari kasur merah berlogo kesebelasan Liga Inggris. Kulihat jam melalui ponsel pintarku. Tinggal beberapa menit lagi sampai waktu yang ditentukan bertemu di TPA. Dengan gontai berjalan kukumpulkan energi untuk memenuhi ajakan itu. Kupakai celana yang menurutku paling pantas dan kupasangkan dengan baju takwa yang kumiliki. Aku bergegas berangkat. Bermodalkan petunjuk lokasi yang diberikan temanku melalui salah satu aplikasi percakapan aku mulai menyusuri jalanan. Dari aplikasi peta yang kubuka tertulis bahwa perjalan hanya delapan menit. Yang berarti bahwa jarak rumahku ke TPA tidak terlalu jauh. Kuikuti setiap intruksi yang keluar dari aplikasi itu. Belok kiri lalu belok kanan kemudian belok k...

Jatuhku Tadi Malam

Kubuka mataku. Yang awalnya saling melekat terpejam. Sehingga dapat kulihat sekeliling. Namun masih terasa pusing kepalaku. Sebentar aku menunggu kesadaranku kembali seutuhnya. Ah, apakah aku belum sadar? Bukankah dengan membuka mata saja itu berarti aku telah sadar. Manakah yang lebih dulu? Aku membuka mata lalu sadar ataukah aku sadar lalu membuka mata? Entahlah hal itu sudah kulakukan tadi. Tak perlu dijawab. Aku bukan seorang filsuf yang mempertanyakan lebih dahulu ilmu atau teknologi. Seperti dalam kuliah Filsafat Teknologi semester empat lalu. Pun semacam anekdot populer yang menanyakan lebih dahulu telur atau ayam. Yang pada dasarnya pertanyaan itu sendiri sudah salah sejak awal. Kembali lagi. Setelah otak ku jernih kucoba mengamati sekitar. Entah otak atau pikiranku yang jernih tak perlu kalian tanyakan. Renungkanlah sendiri bangsat!!! Aku mengerti bahwa aku berada di lantai tujuh sebuah gedung. Ini pasti gedung bertingkat tak perlu kalian tanyakan. Dari mana aku tahu? Cu...

Orang-Orang Diam Yang Bicara

Ketika bicara juga sesulit diam. *** (This book belongs to “Aha Silent!”) [1] tulisan itu tertera di halaman awal sebuah buku seukuran genggaman tanganku. Sampulnya yang sobek kecil di setiap bagian sudut terasa rapuh. Kuraba permukaan kertasnya terasa kasar. Bercak noda kecoklatan juga menempel di sana sini. Kesan yang memperlihatkan betapa lama perjalanan yang dilalui buku tersebut untuk sampai ke masa ini. Aku tidak paham dengan kalimat yang telah kubaca tadi terutama pada kata “Aha Silent!”. Sehingga rasa keingintahuanku masih bersemayam dan mencoba mendobrak keluar. Tanganku tergerak untuk menyibak lembaran buku itu. Jemariku berhenti tepat di sebuah pembatas buku berbentuk ikan koi. Tentu saja ikan koi dalam bentuk dua dimensi. Jangan berkhayal akan ada ikan koi sungguhan di dalam buku. Sebuah rangkain tali halus yang dirajut terpaut di ekor ikan koi berwarna-warni yang dikombinasi secara harmonis. Kukatakan sekali lagi, yang kumaksud adalah pembatas buku berbentuk ikan k...