Hei, sudah berapa ember yang rusak kalian gunakan untuk menguras genangan air yang membuat corak biru raksasa di wajah bopeng bumi ini? Hingga dua nol dua nol yang kujumpai dari satu sembilan sembilan tujuh kala sebersit cahaya masuk melalui lubang sempit yang menuntunku menuju kehidupan busuk ini bahkan seperseratus juta lima ratus dua puluh tiga nya saja belum terkuras setetes pun itu comberan jernih nan bening. Apakah kalian terlihat akrab dengan analogi itu? Ya. Perkenalan pertama ku dengan beliau tak terjadi secara langsung sekitar dua tahun lalu kurang tiga bulan mungkin. Melalui tulisan mbak Butet Manurung di Mojok.co mengenai sabunisasi orang Papua. Kalian bacalah sendiri itu tulisan bangsat yang menginjak harga diriku sebagai so called pahlawan yang mengabdi. Pemikiran beliau secara tersirat tertuang dalam coretan mbak Butet itu. Mulailah aku sering berjumpa beliau walaupun menyapapun tak pernah berani kulakukan. Cukup meliriknya dari jauh dengan jantung berdebar bak...