Skip to main content

Jatuhku Tadi Malam


Kubuka mataku. Yang awalnya saling melekat terpejam. Sehingga dapat kulihat sekeliling. Namun masih terasa pusing kepalaku. Sebentar aku menunggu kesadaranku kembali seutuhnya. Ah, apakah aku belum sadar? Bukankah dengan membuka mata saja itu berarti aku telah sadar. Manakah yang lebih dulu? Aku membuka mata lalu sadar ataukah aku sadar lalu membuka mata? Entahlah hal itu sudah kulakukan tadi. Tak perlu dijawab. Aku bukan seorang filsuf yang mempertanyakan lebih dahulu ilmu atau teknologi. Seperti dalam kuliah Filsafat Teknologi semester empat lalu. Pun semacam anekdot populer yang menanyakan lebih dahulu telur atau ayam. Yang pada dasarnya pertanyaan itu sendiri sudah salah sejak awal.

Kembali lagi. Setelah otak ku jernih kucoba mengamati sekitar. Entah otak atau pikiranku yang jernih tak perlu kalian tanyakan. Renungkanlah sendiri bangsat!!! Aku mengerti bahwa aku berada di lantai tujuh sebuah gedung. Ini pasti gedung bertingkat tak perlu kalian tanyakan. Dari mana aku tahu? Cukup dengan menalarnya saja pasti aku tahu bahwa ini di ketinggian yang setara dengan lantai ketujuh. Itulah keunggulan dari rasio. Kita tidak perlu mencoba menuruni gedung ini lalu menghitung lantainya seperti kaum empirisme. Rasio mendahului pengalaman, begitulah yang dikemukakan kaum rasionalisme yang dipelopori Rene Descartes, sang bapak Filsafat Modern. Lagipula keadaanku juga tidak memungkinkan untuk menuruni gedung.

Kuberi tahu kalian bahwa aku berada di lantai tujuh bukan bagian dalam melainkan di bagian luar. Hanya ada satu tongkat yang menempel di dinding entah bagaimana caranya aku tidak paham. Lalu tubuhku ditopang oleh tali yang melingkar di tubuhku dan ditautkan ke tongkat tadi. Tali jenis apa aku juga tidak tahu. Aku serba tidak tahu. Bahkan aku juga tidak tahu bagaimana bisa aku ada di tempat ini. Tidak mungkin Mr. Jigsaw dalam serial film “SAW” yang menempatkanku di sini.

Setelah selesai menganalisa keadaan. Keping-keping puzzle yang berserakan pun mulai menyatu. Ember di tangan kiri, serbet di tangan kanan, dan jodoh di tangan Tuhan. Kalian pasti paham kalau aku ada seorang cleaning service. Kalau masih belum paham kuberitahu. Aku adalah seorang cleaning service di sebuah gedung yang tidak kuketahui namanya. Bahkan aku tidak mengingat kalau aku pernah mendaftar bekerja di tempat ini. Tiba-tiba saja ketika aku membuka mata sudah berada di sini menggantung di luar gedung lantai tujuh.

Kurang ajar. Sementara aku memikirkan diriku berada di mana dan bagaimana bisa aku berada di tempat ini ada masalah yang lebih serius. Tali serta tongkat yang menopang tubuhku perlahan lepas dari dinding gedung. Hal yang terjadi ketika kita bergelantung tanpa alat keselamatan di luar gedung lantai tujuh adalah jatuh. Tidak ada orang maupun jalan keluar. Satu-satunya jalan yaitu turun. Tapi tidak mungkin dengan alat seperti ini. Tentu saja aku juga tidak membawa parasut. Keadaan ini mengingatkanku pada sebuah "meme" yang pernah kubaca. Di sana tertulis "You can skydive without parachute, but only once". Tentu yang dimaksud setelah melakukan itu kita akan mati.

Gesekan antara tongkat dan dinding seakan terdengar jelas di telingaku. Suasana benar-benar senyap. Tinggal menunggu waktu saja hingga tongkat ini terlepas. Sedangkan aku masih belum memiliki ide untuk bebas dari keadaan ini. Mungkin lebih baik aku pasrah dan mencoba menikmati rasanya terjun bebas dari lantai tujuh. Mari kita lihat seperti apa bentuk ku saat sampai di bawah. Dengan kedua kaki pengkor, tangan kanan terpisah dari tubuh, otak keluar dari kepala dan berceceran. Serta tangan kiri masih memegang ember. Pasti indah. Aku yakin!

Detik-detik ketika tubuhku sudah tidak kuat ditopang si tali dan sang tongkat. Dapat kulihat ujung tongkat yang tercerabut dari dinding. Seketika badanku meluncur dan terjun bebas. Terasa begitu kencang gesekan antara udara dan kulitku. Aku tidak sempat menghitung kecepatan jatuhku. Namun rasanya seperti saat kita menaiki rollercoaster dan berada di puncak lintasan lalu dengan kecepatan penuh menukik. Jantungku serasa keluar bersama organ lainnya. Waktu seperti melambat. Bisakah kalian merasakannya? Oh, maaf mungkin banyak dari kalian yang belum pernah menaiki wahana rollercoaster. Baik begini saja. Kalian pernah menaiki motor atau mobil kan. Saat menemui tanjakan kecepatan berada di titik maksimal dan ketika menurun kendaraan kita tidak menapak di tanah. Ya seperti itulah rasanya.

Tubuhku langsung menghujam tanah. Tanpa peringatan sedikitpun. Aku terduduk. Tidak kurasakan tulang patah.

Aku masih hidup. Sial. Aku hanya bermimpi. Terbangun. Lalu keluar kamar. Kuceritakan mimpi tadi kepada teman-temanku.

Aku terbangun. Lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...