Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial
komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan
budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah
pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia
sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah
yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah
ditinggalkan.
Di sebuah negeri festival-festivalan yang
mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi
di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat
jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya
ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan
banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau
lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak
ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbolak-baliknya manusia negeri
ini. Yang wajib belum dilaksanakan, tapi sudah sunah dibela-belakan untuk
dilakukan.
Aneh tapi nyata serta benar-benar terjadi di
daerahku. Tarawih berjamaah yang dihimbau untuk dilakukan #dirumahaja bersama keluarga justru tidak dilaksanakan
malah memaksa mengadakan jamaah tarawih di masjid, mushola, langgar, dan tempat
lain yang dapat digunakan dengan peserta yang membludak. Namun ketika selesai
tarawih diadakan majlis ngaji peserta yang ikut hanya segelintir saja. Memang begitulah
jika hanya mengikuti nafsu.
Comments
Post a Comment