Kupikir aku tidak akan memenuhi ajakan temanku beberapa waktu lalu untuk membantu di TPA LB (Taman Pendidikan Al Quran Luar Biasa) tempat dia mengajar. Setelah seharian berkeliling kota. Dari barat ke timur, lalu ke utara dan kembali. Lelah dan kantuk menyerang. Membuatku malas untuk beranjak dari kasur merah berlogo kesebelasan Liga Inggris.
Kulihat jam melalui ponsel pintarku. Tinggal beberapa menit lagi sampai waktu yang ditentukan bertemu di TPA. Dengan gontai berjalan kukumpulkan energi untuk memenuhi ajakan itu. Kupakai celana yang menurutku paling pantas dan kupasangkan dengan baju takwa yang kumiliki.
Aku bergegas berangkat. Bermodalkan petunjuk lokasi yang diberikan temanku melalui salah satu aplikasi percakapan aku mulai menyusuri jalanan. Dari aplikasi peta yang kubuka tertulis bahwa perjalan hanya delapan menit. Yang berarti bahwa jarak rumahku ke TPA tidak terlalu jauh. Kuikuti setiap intruksi yang keluar dari aplikasi itu. Belok kiri lalu belok kanan kemudian belok kiri lagi dan seterusnya.
Di suatu percabangan jalan yang seharusnya berbelok ke kiri aku melewatkannya. Aku tidak melihat sedikitkpun jalan ke kiri. Sial. Kulihat kembali aplikasi peta yang aku gunakan. Ia sedang mencari jalan baru. Pikiranku sedikit kacau ingin pulang saja rasanya. Namun tanggung. Akhirnya kulanjutkan perjalanan dan mengikuti kembali instruksi sang aplikasi. Dan akhirnya sampai di tujuan.
Sudah ada beberapa temanku yang lain di sana. Menunggu. Setelah kegiatan akan dimulai kami masuk. TPA LB ini merupakan tempat belajar untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Tentu saja khusus di sini menurut sudut pandang kita yang dengan angkuh merasa normal.
Kulangkahkan kaki memasuki halaman. Terlihat anak-anak sudah berkumpul di pendopo TPA. Seketika ada anak yang tertawa melihatku. Dia langsung memberitahukan kepada temannya tentang rambutku yang gondrong. Tentu saja dia gunakan bahasa isyarat. Anak yang nantinya kuketahui namanya adalah Hanif. Perawakannya tinggi dan besar untuk ukuran anak berusia sekitar 14 tahun. Melebihi badanku.
Sesuai perkataan temanku bahwa kegiatan dimulai dengan sholat terlebih dahulu. Namun pengajar yang biasanya menjadi imam sholat belum hadir. Sehingga tugas mengimami diberikan kepadaku. Aku kebingungan saat itu. Bertanya-tanya bagaimana tata cara menjadi imam bagi teman-teman berkebutuhan khusus? Apakah ada cara khusus? Dari pengajar lain tidak ada arahan. Kemudian aku nekat saja mengimami seperti biasa.
Dan benar saja, salah seorang anak menghampiriku. Menanyakan namaku. Kuberitahu dan dia memperkenalkan namanya Ibrahim. Dia bertanya kenapa saat sholat tadi tidak baca surat atau apalah aku kurang paham yang dia maksud. Langsung kusimpulkan saja bahwa ada yang kurang dari sholatku tadi. Untuk ukuran mengimami sholat teman-teman berkebutuhan khusus.
Setelah Ibrahim pergi sekarang ganti Hanif mendekatiku. Bertanya dia mengapa aku gondrong. Dosa katanya. Kurang ajar. Siapa yang mengajarinya hal tidak benar begitu. Hanif kembali bergosip dengan teman-temannya mengenai rambut gondrongku. Tentu saja dengan bahasa isyarat yang aku tidak mengerti. Ah, aku iri. Seakan mereka dengan bebas membicarakan banyak rahasia tanpa bisa dipahami orang di sekitarnya.
Kegiatan dilanjutkan pembagian kelompok untuk permainan. Salah seorang guru menunjuk beberapa anak untuk menjadi pimpinan kelompok yang akan dibentuk. "Kowe milih sing ayu to!" ucap ibu guru tadi. Ketika seorang anak mengajak temannya bergabung. Heran pikirku. Apakah iya anak-anak itu sudah berpikiran memilih teman yang cantik. Jika itu benar pun apakah kalimat tadi pantas dikatakan oleh seorang guru? Standar moralku mencoba mengukurnya. Namun tak jua menemu jawaban.
Setiap anak sudah mendapatkan kelompoknya masing-masing. Permainan pun dimulai. Tanpa diskusi ataupun arahan anak-anak itu berlarian ke berbagai arah mata angin. Mereka mencari gambar yang disebar di area TPA sesuai instruksi. Yang seharusnya bekerja sama namun malah kerja individu. Ya, meskipun begitu mereka tetap riang gembira berlarian ke sana ke mari dan tertawa.
Gambar-gambar yang tersebar sudah terkumpul. Setiap kelompok menghitung seberapa banyak yang dapat mereka kumpulkan. Beragam. Ada yang dapat dihitung dengan jumlah jari salah satu tangan saja bahkan ada yang perlu jumlah jari di dua tangan bahkan lebih. Seorang guru mengumumkan bahwa yang mendapatkan gambar terbanyak adalah pemenangnya. Mengalahkan kelompok lain. Ah, ternyata ini sebuah kompetisi.
Tetiba Hanif mengejek salah satu kelompok yang kalah. Dia membanggakan kelompoknya yang menang. Entah sejak kapan kompetisi menjadi hal yang sangat lumrah di dunia pendidikan. Saling bersaing antar teman serta saling mengalahkan. Apakah teman-teman calon guru di jurusan pendidikan juga diajarkan demikian oleh dosen-dosennya? Sehingga yang diterapkan saat mengajar pun demikian. Sebuah kompetisi.
Padahal setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Maka tidak layak ketika setiap anak diperlakukan secara seragam dan diminta mengikuti adu pertandingan untuk mencapai ranking tertinggi. Padahal modalnya tak sama, tak sama pula lingkungannya, asupan gizi juga tak sama, fasilitas pun tidak sama. Bayangkan teman-teman berkebutuhan khusus semenjak awal sudah diajarkan untuk berkompetisi sesamanya. Bagaimana nantinya saat mereka keluar dalam lingkungan masyarakat yang heterogen? Mereka harus berkompetisi juga dengan teman-teman yang normal yang dalam pendidikannya pun diajarkan demikian. Sangat kacau sekali.
Terlebih lagi Indonesia sebagai negara yang berlandaskan asas kekeluargaan dan gotong royong yang tercantum dalam Pancasila maupun UUD 1945 seharusnya menumbuhkan semangat gotong royong dan kerja sama. Bukan malah memupuk semangat kompetisi. Prestasi kok mengalahkan orang lain!!!
Kulihat jam melalui ponsel pintarku. Tinggal beberapa menit lagi sampai waktu yang ditentukan bertemu di TPA. Dengan gontai berjalan kukumpulkan energi untuk memenuhi ajakan itu. Kupakai celana yang menurutku paling pantas dan kupasangkan dengan baju takwa yang kumiliki.
Aku bergegas berangkat. Bermodalkan petunjuk lokasi yang diberikan temanku melalui salah satu aplikasi percakapan aku mulai menyusuri jalanan. Dari aplikasi peta yang kubuka tertulis bahwa perjalan hanya delapan menit. Yang berarti bahwa jarak rumahku ke TPA tidak terlalu jauh. Kuikuti setiap intruksi yang keluar dari aplikasi itu. Belok kiri lalu belok kanan kemudian belok kiri lagi dan seterusnya.
Di suatu percabangan jalan yang seharusnya berbelok ke kiri aku melewatkannya. Aku tidak melihat sedikitkpun jalan ke kiri. Sial. Kulihat kembali aplikasi peta yang aku gunakan. Ia sedang mencari jalan baru. Pikiranku sedikit kacau ingin pulang saja rasanya. Namun tanggung. Akhirnya kulanjutkan perjalanan dan mengikuti kembali instruksi sang aplikasi. Dan akhirnya sampai di tujuan.
Sudah ada beberapa temanku yang lain di sana. Menunggu. Setelah kegiatan akan dimulai kami masuk. TPA LB ini merupakan tempat belajar untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Tentu saja khusus di sini menurut sudut pandang kita yang dengan angkuh merasa normal.
Kulangkahkan kaki memasuki halaman. Terlihat anak-anak sudah berkumpul di pendopo TPA. Seketika ada anak yang tertawa melihatku. Dia langsung memberitahukan kepada temannya tentang rambutku yang gondrong. Tentu saja dia gunakan bahasa isyarat. Anak yang nantinya kuketahui namanya adalah Hanif. Perawakannya tinggi dan besar untuk ukuran anak berusia sekitar 14 tahun. Melebihi badanku.
Sesuai perkataan temanku bahwa kegiatan dimulai dengan sholat terlebih dahulu. Namun pengajar yang biasanya menjadi imam sholat belum hadir. Sehingga tugas mengimami diberikan kepadaku. Aku kebingungan saat itu. Bertanya-tanya bagaimana tata cara menjadi imam bagi teman-teman berkebutuhan khusus? Apakah ada cara khusus? Dari pengajar lain tidak ada arahan. Kemudian aku nekat saja mengimami seperti biasa.
Dan benar saja, salah seorang anak menghampiriku. Menanyakan namaku. Kuberitahu dan dia memperkenalkan namanya Ibrahim. Dia bertanya kenapa saat sholat tadi tidak baca surat atau apalah aku kurang paham yang dia maksud. Langsung kusimpulkan saja bahwa ada yang kurang dari sholatku tadi. Untuk ukuran mengimami sholat teman-teman berkebutuhan khusus.
Setelah Ibrahim pergi sekarang ganti Hanif mendekatiku. Bertanya dia mengapa aku gondrong. Dosa katanya. Kurang ajar. Siapa yang mengajarinya hal tidak benar begitu. Hanif kembali bergosip dengan teman-temannya mengenai rambut gondrongku. Tentu saja dengan bahasa isyarat yang aku tidak mengerti. Ah, aku iri. Seakan mereka dengan bebas membicarakan banyak rahasia tanpa bisa dipahami orang di sekitarnya.
Kegiatan dilanjutkan pembagian kelompok untuk permainan. Salah seorang guru menunjuk beberapa anak untuk menjadi pimpinan kelompok yang akan dibentuk. "Kowe milih sing ayu to!" ucap ibu guru tadi. Ketika seorang anak mengajak temannya bergabung. Heran pikirku. Apakah iya anak-anak itu sudah berpikiran memilih teman yang cantik. Jika itu benar pun apakah kalimat tadi pantas dikatakan oleh seorang guru? Standar moralku mencoba mengukurnya. Namun tak jua menemu jawaban.
Setiap anak sudah mendapatkan kelompoknya masing-masing. Permainan pun dimulai. Tanpa diskusi ataupun arahan anak-anak itu berlarian ke berbagai arah mata angin. Mereka mencari gambar yang disebar di area TPA sesuai instruksi. Yang seharusnya bekerja sama namun malah kerja individu. Ya, meskipun begitu mereka tetap riang gembira berlarian ke sana ke mari dan tertawa.
Gambar-gambar yang tersebar sudah terkumpul. Setiap kelompok menghitung seberapa banyak yang dapat mereka kumpulkan. Beragam. Ada yang dapat dihitung dengan jumlah jari salah satu tangan saja bahkan ada yang perlu jumlah jari di dua tangan bahkan lebih. Seorang guru mengumumkan bahwa yang mendapatkan gambar terbanyak adalah pemenangnya. Mengalahkan kelompok lain. Ah, ternyata ini sebuah kompetisi.
Tetiba Hanif mengejek salah satu kelompok yang kalah. Dia membanggakan kelompoknya yang menang. Entah sejak kapan kompetisi menjadi hal yang sangat lumrah di dunia pendidikan. Saling bersaing antar teman serta saling mengalahkan. Apakah teman-teman calon guru di jurusan pendidikan juga diajarkan demikian oleh dosen-dosennya? Sehingga yang diterapkan saat mengajar pun demikian. Sebuah kompetisi.
Padahal setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Maka tidak layak ketika setiap anak diperlakukan secara seragam dan diminta mengikuti adu pertandingan untuk mencapai ranking tertinggi. Padahal modalnya tak sama, tak sama pula lingkungannya, asupan gizi juga tak sama, fasilitas pun tidak sama. Bayangkan teman-teman berkebutuhan khusus semenjak awal sudah diajarkan untuk berkompetisi sesamanya. Bagaimana nantinya saat mereka keluar dalam lingkungan masyarakat yang heterogen? Mereka harus berkompetisi juga dengan teman-teman yang normal yang dalam pendidikannya pun diajarkan demikian. Sangat kacau sekali.
Terlebih lagi Indonesia sebagai negara yang berlandaskan asas kekeluargaan dan gotong royong yang tercantum dalam Pancasila maupun UUD 1945 seharusnya menumbuhkan semangat gotong royong dan kerja sama. Bukan malah memupuk semangat kompetisi. Prestasi kok mengalahkan orang lain!!!
Comments
Post a Comment