Ketika bicara juga sesulit diam.
***
(This book belongs to “Aha Silent!”)[1] tulisan itu tertera di halaman
awal sebuah buku seukuran genggaman tanganku. Sampulnya yang sobek kecil di
setiap bagian sudut terasa rapuh. Kuraba permukaan kertasnya terasa kasar. Bercak
noda kecoklatan juga menempel di sana sini. Kesan yang memperlihatkan betapa
lama perjalanan yang dilalui buku tersebut untuk sampai ke masa ini.
Aku tidak paham dengan kalimat yang telah kubaca tadi terutama pada
kata “Aha Silent!”. Sehingga rasa keingintahuanku masih bersemayam dan mencoba
mendobrak keluar. Tanganku tergerak untuk menyibak lembaran buku itu. Jemariku
berhenti tepat di sebuah pembatas buku berbentuk ikan koi. Tentu saja ikan koi
dalam bentuk dua dimensi. Jangan berkhayal akan ada ikan koi sungguhan di dalam
buku. Sebuah rangkain tali halus yang dirajut terpaut di ekor ikan koi
berwarna-warni yang dikombinasi secara harmonis. Kukatakan sekali lagi, yang
kumaksud adalah pembatas buku berbentuk ikan koi dengan ukiran cantik di
tubuhnya.
Kamis, 2 Februari 2023
Aku memang
bodoh. Teman masa kecilku sudah menjadi miliknya.
Kalimat yang membingungkan. Pikiranku tidak bisa menangkap
maksudnya. Entahlah, jika memang tanggal yang tertera benar berarti tulisan ini
baru saja ditulis. Terlihat juga titik-titik air sedikit basah di bagian bawah
tulisan itu. Benakku pun masih bertanya-tanya. Akhirnya kubalik lagi setiap
halaman buku tersebut perlahan menuju lembaran sebelumnya. Aku takut merusak
buku tersebut. Kertas-kertasnya terasa rapuh. Tapi hal itulah yang membuat buku
itu terasa spesial. Kutebak ini merupakan catatan harian atau biasa disebut diary.
Minggu, 1
Januari 2023
Dia mengatakannya
semalam bahwa seseorang membuatnya jatuh hati. Entah sejak kapan?
Malam tahun baru kemarin aku menghabiskan waktu bersama Sheila.
kami pergi ke pantai mendirikan tenda di bawah tebing. Lalu menyalakan lampu
nelayan berwarna biru dengan cat yang mengelupas di berbagai sisi. Terlihat
pula karat coklat di gagang lampu tersebut. Ia menemani kami bercengkerama akan
banyak hal yang telah berlalu satu tahun ini. Deburan ombak pun terdengar tidak
hanya sesekali saat kami membicarakan memori-memori yang terkenang tersebut.
Seperti ia juga ingin bercakap bersama kami namun berbeda bahasa. Malam itu aku
juga menyampaikan perasaanku yang sudah lama tersimpan. Bukan kepada Sheila.
Kuberi tahu kalian bahwa kami adalah perempuan. Ini mengenai seorang lelaki di
samping Sheila, teman masa kecilnya.
Sabtu, 28 Januari 2023
Bodoh jika
bilang cinta tak harus memiliki. Jika mencintainya buatlah dia menjadi milikmu.
***
Aku bergegas menuju bukit belakang rumah Sheila. Melewati pepohonan
di tiap sela-selanya dan melompati semak-semak kecil yang bertumbuhan.
Jantungku berdegup tidak seperti biasanya. Hal luar biasa baru saja terjadi
dalam hidupku. Pun senyum yang mengembang di wajahku tak bisa
kusembunyikan. Ingin segera kebahagian
ini kubagikan kepada teman terbaikku, Sheila.
Sepuluh menit yang lalu aku tiba di rumah teman sebangku ku sejak
masuk SMA. Kata ibunya, Sheila sedang berada di bukit belakang rumah. Pastilah
rumah pohon tempat kami biasa menghabiskan waktu yang dimaksud. Sebuah pondokan
kecil terbuat dari papan-papan usang. Besarnya tidak lebih kecil dari kamar
mandi namun juga tak sebesar kamar tidur. Segera aku berlari dengan penuh
semangat.
Sembilah pohon pinus, tiga pohon mangga yang belum berbuah,
beberapa pohon cemara, dan burung-burung yang bertengger kulewati. Setelah ini
di depan sana ada pohon beringin cukup tua, ambil arah kiri. Dan itulah rumah
di atas pohon jambu air. Kecil namun bukan mungil. Istana gubuk reyot yang
megah bagi kami. Dengan karya-karya kelas tinggi di dinding kayunya yang
digoreskan oleh maestro abal-abal.
Langsung saja kusambar tali kecoklatan yang menjuntai berbentuk
tangga tak sempurna. Kujejaki tiap simpul tali satu demi satu. Kadang kulompati
satu tali hanya karena ingin segera sampai. Lupa sudah berapa pijakan yang
kunaiki. Akhirnya tanganku bisa merasakan lantai rumah pohon. Rasanya kasar
bertekstur tak beraturan. Saat telapak kakiku sampai di ujung anak tangga tali
teratas kepalaku menyembul. Dapat kulihat keadaan di dalam rumah pohon. Kosong.
Aku yakin aku tidak salah menaiki rumah pohon. Tidak ada rumah
pohon lain selain milik kami. Kuamati lagi lebih detail setiap ornamen yang
tercetak di dinding, lantai, jendela, dan atap-atapnya. Sama persis dengan
rumah pohon kami. Ya, karena memang ini rumah pohon kami. Tapi kenapa Sheila
tidak ada di sini? Apakah dia sudah pulang? Tidak mungkin, kalau dia pulang seharusnya
kami bertemu di jalan menuju rumahnya. Yang ada hanya sebuah buku kusam
tergeletak di sudut sepi pojokan rumah pohon.
***
Ah, apa itu?
***
Ibu jariku tepat mengusap di muka layar telepon genggam pintar yang
kumiliki. Tidak ada dering maupun getar. Di pojok kanan atas layar muncul
sebuah amplop. Hal lumrah yang pastinya diketahui khalayak umum makna gambar
amplop tersebut. Jangan pura-pura tidak paham. Kalian juga pasti tahu kalau itu
tanda sebuah pesan masuk ke sebuah telepon genggam.
Terlihat beranda depan telepon genggamku. Banyak sekali pilihan
menu yang tersedia. Layaknya telepon genggam yang menjamur zaman sekarang.
Langsung saja jemariku kuarahkan ke simbol amplop yang muncul, kutekan. Oh,
sebuah pesan dari Uttara, teman dekatku di sekolah. Tentu saja bukan hanya di
sekolah tetapi juga di rumah, di perumahan, di komplek, di kota, di provinsi,
dan di Indonesia. Namun kami belum berteman saat di kandungan.
Uttara, 20:39
WIB.
Shei, doain ya
besok gue mau main sama Adim[2] dan bakal ngungkapin perasaan gue!
Ah, pipiku terasa hangat. Jantungku ritme detaknya tidak beraturan.
Apa ini? Kenapa tiba-tiba ada air mengalir dari mataku? Aku tidak bisa
menghentikannya. Buliran air ini terjun bebas tanpa kekangan saat membaca pesan
itu. Tanganku gemetar. Sebuah telepon genggam kecil menjadi begitu berat. Tak
kuasa jari-jemariku menahannya. Ia jatuh. Beruntung masih di atas kasur
sehingga aman. Kurebahkan badanku didekatnya.
Kuatur pernapasanku. Kuingat lagi yang diajarkan guru olahraga saat
di sekolah cara mengambil napas yang benar. Kutarik oksigen di sekitar ruangan
menggunakan hidung tentunya. Kuhirup sebanyak mungkin lalu kuhembuskan
pelan-pelan. Suaranya sedikit bergetar. Perlahan detak jantung dan napas serta
tubuhku mulai stabil kembali. Walaupun buliran air mata tetap keluar tanpa
permisi dari kedua bola mataku.
Coba kuambil telepon genggamku. Setelah kupegang dan memandangi
pesan dari Uttara sembari memutar otak menyusun jawaban. Tak kusangka secepat
ini. Baru sebulan lalu Uttara bilang padaku mengenai seseorang yang dia cinta.
Kini dia akan mengungkapkannya. Awalnya aku memang kaget mendengar nama yang
disebutkannya. Namun aku tidak berhak melarang. Kita tidak bisa memilih kepada
siapa untuk jatuh cinta. Walaupun aku tidak memberitahunya bahwa kita mencintai
orang yang sama. Aku bertekad untuk memperjuangkan rasaku juga. Kenyataannya
aku memang lambat.
Dari awal aku memang tidak memberi tahu Uttara tentang perasaanku.
Menjadi tidak adil jika aku harus mengungkitnya. Akhirnya kumantapkan hatiku.
Pelan-pelan kuketik balasan pesan darinya.
Sheila Tan,
20:57 WIB.
Semangat
Uttara, semoga beruntung!
Ah, Sheila Tan kamu memang bodoh, batinku mengutuk yang kulakukan.
***
Kupikir atap rumah pohon di belakang rumah ini bocor karena ada beberapa
titik air menimpa buku catatan perjalanan hidupku. Sehingga ada yang basah di
beberapa titik dan sudut. Kulihat sekeliling ternyata gerimis pun tidak. Dasar
bodoh mana mungkin hujan di musim panas seperti ini. Itu adalah air yang keluar
dari sudut gelap mataku. Tak kuasa aku menahannya saat mengingat malam tadi.
Kuusap bulir-bulir air itu menggunakan bagian pinggir kerah bajuku.
Masih tidak berhenti. Malah membuat kerah baju putih dengan sedikit renda itu
menjadi kotor. Tampak kehitaman sebuah noda menempel mungkin bekas alis yang
kugambar. Tapikan aku tidak pernah menggambari alisku. Alis yang menempel di
atas kedua bola mataku ini sudah indah dari aku lahir. Tidak perlu repot-repot
digambar membentuk gunung menjulang. Tidak perlu.
Kututup buku abu-abu pudar yang cukup jika dimasukkan ke saku baju
itu. Kuletakkan di sudut rumah pohon. Santai saja tidak aka nada yang
mencurinya. Untuk apa seseorang mencuri buku kecil kumal seperti ini? Orang
yang biasa berkunjung kesini pun hanya aku dan Uttara. Walaupun 2mungkin Uttara
akan tertarik dengan buku ini karena aku belum pernah memperlihatkannya. Tapi
dia tidak akan ke sini dalam waktu dekat ini. Ya, dikarenakan dia sedang pergi
dengan Adim. Setelah menaruh buku lalu
aku turun dari rumah pohon. Di barat rumah pohon sekitar Sembilan meter
terdapat sungai kecil yang lumayan jernih. Airnya juga segar. Aku berniat untuk
membasuh muka di sana.
***
“Utta, bukannya kamu lagi pergi sama Adim?” Sheila bertanya kepada
seseorang di depannya.
Walaupun
saat kembali ke rumah pohon Sheila hanya melihat orang itu dari belakang. Dia
sangat tahu kalau itu Uttara.
“Hai
Shei, iya udah kok. Gue ke sini mau ngasih kabar gembira ke elo,” balas Uttara
dengan semangat dengan masih menggenggam buku yang tadi.
“Kabar gembira?” alis Sheila agak naik.
Mungkin tentang hal tadi malam pikir Sheila. Jika itu kabar gembira
berarti Adim menerima Uttara. Sheila
juga jadi ingat denganbukunya. Dia coba melirik sekitar. Di tempat tadi Sheila
menaruhnya, di sudut-sudut dan pojokan. Tidak ada. Perasaannya campur aduk
antara mencari bukunya dengan kabar gembira dari Uttara. Sheila melirik lagi di
sekitar Uttara. Dan ternyata buku itu ada di tangan Uttara.
“Iya,
tau ga? Doa lo semalem manjur banget. Jadi, tadi Adim nerima perasaan gue,”
Uttara menjawab dengan girang dan sedikit melompat lalu memegangi Sheila.
Sheila menarik bibirnya ke dalam sedikit bergetar. Dia harus siap
dengan ini.
“Utta, itu yang ada di tangan kananmu apa? Kamu sudah membacanya?”
tanya Sheila, justru hal itu yang
keluar dari mulutnya.
“Oh,
ini punya elo? Maaf tadi gue udah baca dikit,” kegembiraan Uttara tadi terhenti
seketika saat menjawab.
Dia jadi ingat beberapa hal yang ada dalam tulisan itu hampir mirip
tentangya dan Sheila. Jika memang ini milik Sheila berarti teman masa kecil
yang dimaksud adalah Adim. Uttara sedikit terhuyung memikirkannya. Dia tidak
pernah membayangkan sejauh itu. Selama ini Sheila selalu mendukungnya sepenuh
hati.
“Jadi
yang elo maksud di tulisan ini itu gue, elo sama Adim?” tanya Uttara, “jawab
Shei? Gue butuh kepastian.”
Uttara terus menyerbu dengan pertanyaan bertubi-tubi. Dia
menginginkan sebuah penjelasan. Namun Sheila hanya bisa diam mematung tidak
menjawab. Melihat ekspresi Sheila pun sulit.
“Kok
lo diem aja sih? Kita kan udah temenan lama. Kalo tau kaya gini dan elo ngomong
dari awal kan gue gak bakal . . . ,” belum sempat Uttara menyelesaikan
perkataannya karena terhenti telapak tangan yang melayang di pipinya.
Mereka saling menatap. Uttara terkejut dengan kejadian yang
tiba-tiba itu. Belum pernah mereka bertengkar sampai seperti ini. Napas Sheila
terengah-engah. Ekspresi mukanya tidak karuan. Belum ada yang bereaksi. Entah
siapa dahulu yang akan memulainya.
“Jangan
merasa kasihan kepadaku, Uttara. Ini adalah pilihanku,” Sheila mengawali
sekaligus mengakhiri mungkin.
Mereka berdua terduduk dan diam saling memandang.
***
“Maaf,” keduanya mengucapkan bersama dan saling memeluk.
***
Utarakan.
Utarakan.
Utarakan.[3]
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Menarik sekali cerita pendek ini.
ReplyDeleteNext, ditunggu mas
ReplyDeleteUtarakan kalau cinta. Diam demi persahabatan. Sedih dan derita klimaksnya. Damai pada akhirnya. SAHABAT PENA
ReplyDeleteUtarakan
ReplyDelete