Skip to main content

Di Sini Lagi



Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati.

Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan seperti ini hingga memiliki waktu luang tersendiri untuk menuliskan beberapa pesan serta kesan ataupun komentar terhadapnya. Aku hanya tipe orang yang mencari hiburan saat menikmati suguhan sandiwara itu. Aku memang terkesan tapi tak pernah punya waktu untuk menulis tentangnya dan aku juga tidak mau.

Aku terbangun. Terdampar lagi di suatu tempat yang asing bagiku atau mungkin tidak. Mungkin aku hanya lupa. Lihat di depan sana ada kedua anakku sedang bermain bersama di reruntuhan gedung-gedung bertingkat bukan di halaman rumah belakang. Mana pula istriku yang seharusnya menemani mereka? Aku adalah seorang tentara sekarang. Dan aku mati lagi.

Wow, mungkin hiburan layar lebar yang kupaksakan masuk ke dalam layar sempit laptopku melalui unduhan ilegal ini belum pernah sekalipun kujunpai jalan ceritanya. Bisa jadi ini pertama kalinya kisah seperti itu kunikmati. Sendirian. Tak ada salahnya dengan kesendirian kawan. Gambar bergerak dalam layar kaca ini cukup menghiburku dengan sentuhan arsitektur sedemikian rupa yang muncul dari practical effect. Selain itu getaran dari gesekan suara yang bernada begitu mulus dan pas memberikan warna pada kesepianku dalam kesendirian.

Setelah berkali-kali terbangun-mati-terbangun-mati-terbangun kupikir ada yang kulupakan. Sebenarnya aku mati atau tertidur atau tebangun atau yang mana? Aku hanya harus menerima ini. Kenyataan adalah ketika aku ada dalam suatu kejadian. Aku hanya ingin bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang. Tak peduli gasing itu akan selalu berputar atau berhenti dengan indah pada waktunya.

Seketika ada banyak pesan masuk melalui ponsel genggamku menanyakan bagaimana akhir kisah tersebut? Entahlah yang mana tapi Tuhan memberi kita akal maka berimajinasilah. Dan beruntunglah sang sosok yang bertanggungjawab atas film ini masih memberikan ruang berimajinasi bagi kita. Maka nikmatilah. Kupikir lain waktu aku juga ingin melakukan Inception, walaupun sebenarnya sudah sering kulakukan seperti saat “Jatuhku Tadi Malam”.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...