Skip to main content

Antara Nyata dan Mimpi



Ritual manusia tentu saja ada berbagai macam bentuk serta jenis ataupun macamnya. Berbeda pula pada pagi atau sore atau siang juga malam. Secara garis besar ritual harian manusia adalah beraktivitas pada saat terang atau pagi-sore lalu beristirahat pada malam hari ketika petang. Bermilyar manusia di luar sana bergerak bersama dengan berbagai macam aktivitas masing-masing yang beragam, namun untuk beristirahat hampir semua manusia seragam yaitu dengan tidur. Tidur menjadi pelipur lelah bagi manusia. Aku pun juga melakukan ritual tidur setiap malam. Ingin kubagikan sedikit pengalaman tidur yang menakjubkan kepada kalian.

Setelah kehadiran seorang perempuan yang menjadi teman hidup kakakku dan ikut tinggal di rumah membuatku tergusur dari kamar yang sudah lama kutiduri. Akhirnya aku dibuatkan sebuah loteng di atas salah satu ruang rumah untuk menjadi pelabuhan tidurku serta ruang rahasia bagi kegiatan-kegiatan rahasia juga tentunya. Setiap malam aku berangkat tidur di kasur keras yang entah dari mana orang tuaku mendapatkannya. Tetapi ya bodo amat bagiku yang mudah molor di mana saja. Seketika hilang ingatan sudah tiba di dunia mimpi.

Gelap gulita. Tak ada setitik cahaya pun yang menembus. Kucoba membiasakan penglihatanku. Mengatur ukuran pupil untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk. Akhirnya kutangkap sebuah benda mendekat dengan langkah yang berderap. Ternyata ada juga makhluk lain di tempat gelap seperti ini. Ketika dia sampai mungkin akan kusapa lalu kuajak berkenalan sekalian bertanya tempat seperti apa ini. Dan sesampainya ia tepat di depanku betapa kagetnya diriku dengan makhluk satu ini. Hitam. Seketika aku lari tunggang langgang. Makhluk hitam, besar, bergigi besar, rambut gondrong, dengan air liur menetes, dan badan yang bau itu juga mengejarku bersama teman-temannya yang tidak jauh berbeda rupanya.

Beruntung diriku sadar bahwa baru saja berangkat tidur beberapa menit lalu sebelum sampai di tempat anatah berantah ini. Mimpi. Bunga tidur. Bungai bangkai ini lebih tepatnya. Segera kulakukan berbagai cara untuk bangun. Kupanggil diriku. Kugoyangkan badan. Tidak bisa. Aku jadi ingat film Inception yang bisa masuk ke dunia mimpi dan keluar dengan cara membunuh diri sendiri. Ingin kucoba tapi aku tak berani mencobanya. Dan tiba-tiba saja aku sudah kembali telentang terbangun di kasur yang tidak menyenangkan dengan keringat sebesar jagung di setiap bagian tubuh. Segera saja aku turun menemui ibuku dan menangis di pangkuannya.

Lalu aku bangun lagi. Astaga. Untung saja ibuku membangunkanku untuk sholat subuh. Jika tidak bisa saja aku menganggap bangun pertamaku tadi adalah kenyataan lalu aku hidup di sana sehingga menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Sudah berkali-kali aku mimpi yang demikian seperti dalam tulisan lamaku bahkan terkadang aku bisa mengatur mimpi yang kuinginkan dan bebas bergerak di dalamnya. Yang kutakutkan adalah ketika tak bisa kubedakan kenyataan dan mimpi. Antara nyata dan mimpi.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...