Skip to main content

Sebuah Refleksi



Keseharianku sebelum masa sekolah menengah atas adalah sosok anak baru gede yang begitu naif melihat dunia. Dengan idealisme setengah-setengahnya atau malah hanya seperempat saja pemuda tanggung ini memiliki cita-cita setinggi langit untuk berkontribusi terhadap pendidikan di Indonesia. Saat duduk di bangku SD aku bertanya-tanya mengapa pelajar di negeri ini begitu sebal terhadap matematika padahal menurutku begitu menyenangkan. Akhirnya bocah naif ini menanamkan dalam kepalanya untuk menjadi seorang guru matematika yang menyenangkan bagi anak-anak di Indonesia. Berbekal pertanyaan remeh itu aku mulai menapaki perjalanan hidupku untuk menjadi guru yang berkontribusi menyelesaikan permasalahan pendidikan di Indonesia. Setelah menyelesaikan studi di SMA aku masuk kuliah di jurusan yang kuinginkan yaitu Pendidikan Matematika. Namun berakhir dengan pindah ke jurusan filsafat setelah sempat kuliah di dua kampus bersamaan.

SMA-ku yang kata para seniornya adalah miniatur Indonesia itu cukup membangun diriku dalam memandang berbagai hal. Ada seorang kenalan di sekolah yang lumayan sering kuajak berdiskusi walaupun masih sekadar berasumsi tanpa landasan berpikir yang kuat. Sehingga membuat kami sering membahas politik dan permasalahan lain di Indonesia dengan sedikit asal-asalan. Dan kami berimajinasi bersama bahwa suatu hari dia akan menjadi presiden Indonesia dan aku menjadi menteri pendidikannya. Namun di kampus pertamaku aku kehilangan teman berdiskusi hal-hal semacam itu.

Momen ketika aku cukup tersadar bahwa permasalahan di Indonesia bukanlah permasalahan biasa namun permasalahan yang struktural adalah ketika aku mengikuti program Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 di tahun kedua kuliahku. Ketika itu kami sudah menyiapkan berbagai program dari Jawa untuk dilaksanakan di Pulau Kangean sebuah pulau terpencil di timur Jawa. Tetapi saat sampai di sana ternyata keadaan berbeda sehingga program kami tidak bisa begitu saja dilaksanakan. Hal ini dikarenakan sebelumnya kami tidak melakukan survey terlbeih dahulu. Setelah program ENJ 2017 itu aku juga menemukan sebuah tulisan mbak Butet Manurung di Mojok tentang sabunisasi orang Papua. Hal itu kembali menyadarkanku bahwa sebuah kebaikan saja tidak cukup.

Sekarang aku tergabung dalam komunitas literasi dan pendidikan anak yang berfokus pada pendidikan kontekstual seperti juga yang diangkat mbak Butet Manurung di Sokola Rimba. Nina Mentari yang mengenalkanku kepada komunitas yang bernama Book for Mountain.

Comments

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...