Setiap anak yang terlahir di dunia tidaklah
hadir dengan kekosongan seperti yang dianalogikan dalam tabula rasa. Anak membawa
sebuah anugerah saat kemunculannya ke dunia dengan berbagai bakat
masing-masing. Pendidikan seharusnya dimaksudkan untuk mengeluarkan potensi
yang dimiliki setiap putra-putri manusia. Tetapi mungkin hal itu hanya menjadi
sebuah utopia saja. Pendidikan sekarang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri
sehingga pendidikan diseragamkan. Pendidikan di kota, di desa, di gunung, di
hutan, di pinggiran sampah, di sudut gang lokalisasi, di bawah kolong jembatan,
di persimpangan jalan, bahkan di bawah kebosanan menunggu lampu lalu lintas tidaklah
kontekstual dan jauh dari realitas kehidupan sehari-hari mereka sehingga
pendidikan tidak bisa memberikan solusi untuk menyelesaikan masalah keseharian.
Hal-hal seperti itu baru kusadari ketika akhir
masa studiku di SMA. Ternyata aku menjadi korban sistem yang sedemikian rupa masif
sampai kita tidak sadar bahwa ada sebuah kesalahan dalam sistem yang sedang
berjalan ini. Berawal dari sebuah rasa iriku yang begitu berminat dalam seni
ketika melihat betapa teman-temanku begitu berbakat dalam berbagai bidang seni
baik rupa, musik, tari, dan seni-seni lainnya. Aku bertanya-tanya apa yang
membuatku tidak bisa seperti mereka? Ternyata selama ini pendidikan yang
kuperoleh selalu saja mengarahkan kepada hal-hal akademik yang kurang mewadahi
minat dan bakat. Kepintaran setiap anak hanya diukur dengan mata pelajaran
eksakta. Akhirnya akupun hanya menjadi penikmat saja. Penikmat seni. Itu sudah
cukup bagiku.
Sebagai orang yang menyematkan embel-embel
penikmat seni dalam dirinya, aku sering menikmati berbagai sajian seni walaupun
sekadar dari media sosial saja dengan mengikuti akun orang-orang yang
berkesenian. Salah satu akun pekerja seni yang aku ikuti berada di platform Twitter
yang berlogokan burung dengan latar biru muda. Aku sendiri membuat akun Twitter
pada tahun 2011 tepat setahun sebelum kiamat yang diramalkan Suku Aztec namun
sempat hiatus dan baru memulai lagi sekitar dua tahun lalu.
Salah satu pekerja seni yang begitu kutunggu
postingannya adalah milik Presiden Jancukers dengan nama akun Jack Separo
Gendeng @sudjiwotedjo yang punya usaha mengepulkan asap dapur dengan cara
menulis buku, mendalang, dan berkesenian lain seperti bersaxofon, bernyanyi,
berteater, pun melukis, kadang juga main film. Guru nya Gus Mus dan Cak Nun ini
juga memiliki pemikiran nyundhul langit ala filsafat juga tasawuf yang
kadang membuat IQ Melati alias rendah sepertiku ini melongo. Setiap karya yang
beliau hadirkan selalu memiliki makna yang begitu embuh untuk
dibayangkan kok bisa kepikiran begituan. Akhirnya cukup bagiku sebagai penikmat
saja. Kalau kata seorang mahasiswi
Antropologi kenalanku yang katanya indie itu menikmati seni adalah
ibadah.
Sepertinya kamu fans berat ya mas sama beliau :)
ReplyDeleteGajuga :p
DeleteNgerasa beliau keren banget meskipun kadang harus baca rep repannya atau mikir lama dulu biar paham maksudnya huhu😭👍
ReplyDeleteBeliau membuat kita ada karena kata Descartes, "Aku berpikir maka aku ada." Wqwqwq
Deleteibadah asyik kepada tuhan yang maha asyik
ReplyDeleteCie~
Delete