Skip to main content

Sama Yang Tak Seragam



Manusia itu sama tapi dibedakan, beragam tapi diseragamkan. Laki-laki dengan perempuan itu sama tapi dibedakan. Perempuan dan laki-laki itu beragam tapi diseragamkan. Keduanya setara. Seharusnya. Namun konstruksi sosial dalam masyarakat membedakan untuk keduanya. Perempuan dijadikan manusia kelas dua serta sering hak-haknya dikurangi bahkan dihilangkan. Mereka menjadi manusia yang terpinggirkan. Yang pertama dilihat adalah kelaminnya bukan kemampuan perempuan sehingga kontribusi perempuan dalam masyarakat menjadi minim. Hal ini terjadi dikarenakan mengakarnya budaya patriarki dalam masyarakat kita. Bukan lantas matriarki sebagai solusi atas hal tersebut. Keduanya tidak dapat dibenarkan.

Manusia adalah manusia. Laki-laki adalah manusia. Perempuan adalah manusia. Lihatlah perempuan sebagai manusia. Bukan dari kelaminnya. Pun ketika melihat laki-laki.

Comments

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...