Skip to main content

Republik Dagelan: Mari Belajar Untuk Sakit



Ada Corono, buka wisata. WHO mengabari, malah stand up comedy.
Bukannya melakukan pencegahan, asyik slengean.

Pancasila itu tidak ada. Buktinya nyawa digadaikan dengan wisata. NKRI harga investasi. Tidak sedikit sakit yang dapat kita petik kali ini berupa sakit fisik, sakit mental, sakit finansial, pun sakit hati bak dikhianati kekasih hati.

Fisik sakit dikerubuti virus, mental bobrok yang berada di garda terdepan milik para elit yang menganggap hidupnya lebih berfaedah dari orang lain serta kebanyakan manusia sehingga dengan bangga mengajukan diri untuk mendapatkan pemeriksaan terlebih dahulu. Pandemi yang menyerang tanpa diskriminasi ini bahkan lebih paham HAM dibandingkan penanganan dengan cara-cara diskriminatif. Intinya orang miskin dilarang sakit.

Rakyat biasa masih harus luntang-luntung menyelamatkan finansialnya sampai tak terpikirkan nyawa dalam tubuhnya. Bahkan anjuran #dirumahaja akan sulit dicerna bagi mereka pekerja informal serta buruh kerah biru yang berharap cemas dari penghasilan hariannya. Hal ini terjadi bukan hanya karena satu dua hal saja tetapi dari sudah menjadi masalah yang terstruktur.

Hasil pemilu minus malum yang buktinya tidak ada bedanya siapapun yang menang. Pemerintah yang lambat menanggapi peringatan menyebabkan banyak nyawa melayang. Sakit hati sekarang bukan hanya karena ditinggal kekasih di alun-alun Yogyakarta maupun setiap sudutnya. Ada yang lebih sakit lagi. Pemerintah yang lebih menyibukkan wisata daripada nyawa.

Sistem kesehatan yang jauh dari memadai, mental elit yang sakit, sistem ekonomi kapitalis yang krisis, pemerintah yang gagap. Haruskah kita sakit dahulu untuk belajar? Haruskah kita dicampakkan mbak pacar di Malioboro dahulu untuk tahu rasanya sakit hati?

Mari Belajar Untuk Sakit!

Comments

  1. Ambil pelajarannya, sakitnya jangan. Apalagi ditinggal mbk pacar di malbor sabar ya mas:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyebalkan. Manusia lebih senang sakit dahulu untuk mencari pelajaran.

      Mohon maaf itu bukan kisah pribadi saya. Terima kasi~

      Delete
  2. Sehat itu mahal...
    Tapi sakit lebih mahal lagi...

    ReplyDelete
  3. permainan kata yang keren. terutama yang di prolog. kereeeenn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi ta ta tapi saya maunya diseriusun mas :((

      Delete
  4. sebaik-baiknya sakit, lebih baik tidak sakit~

    ReplyDelete
  5. sudah terbiasa sakit? tambah sakit lagi ya mas karena wabah ini😭

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...