Aku sudah lupa kapan tepatnya harapan itu
muncul begitu saja di otakku serta atas dasar apa aku memiliki keinginan
seperti itu. Seingatku waktu itu akhir kelas 6 SD diriku memutuskan untuk
menjadi seorang guru matematika dikarenakan hal itu begitu menyenangkan dan
mudah serta aku heran dengan kebanyakan temanku yang selalu mengeluh dan
kesulitan dengan pelajaran matematika. Akhirnya kutetapkan cita-citaku menjadi
seorang guru matematika.
Seorang bocah SD sepertiku yang hidup di daerah
pedesaan dengan minim informasi ini tak pernah tahu tepatnya cara menjadi seorang
guru matematika. Setelah lulus SD kulanjutkan sekolah di SMP terbaik di
kecamatan tempat tinggalku dengan tetap memegang cita-cita sebagai guru
matematika. Kujalani saja kehidupan SMP hingga berjalan hingga hari kelulusan
pun aku masih belum paham langkah yang dilakukan untuk menjadi seorang guru
matematika.
Belum terpikirkan kampus yang harus kumasuki
agar menjadi seorang guru matematika. Fakultas pun belum terpikirkan untukku
apalagi jurusan yang lebih khusus lagi. Maka kulanjutkan saja jenjang
pendidikanku di SMA yang katanya terbaik di Jogja. Mulai dari sinilah aku paham
langkah yang harus kuambil untuk menjadi seorang guru matematika yaitu masuk
jurusan pendidikan matematika. Jogja sendiri memiliki beberapa kampus negeri
yang memiliki jurusan tersebut yaitu universitas pencetak guru serta
universitas islam dengan label walinya. Sehingga kuputuskan untuk memilih
universitas pabrik pendidik ketika lulus SMA.
Sebagai sekolah favorit serta terbaik di Jogja
begitu mudah untuk masuk universitas yang kuinginkan melalui jalur undangan
sehingga membuatku terbuai dan bersantai saja semasa studi. Kabar yang
mengejutkan datang bahwa kuota undangan setiap sekolah hanya 75% yang dapat
mendaftar dan aku tidak masuk dalam kuota tersebut.
Akhirnya aku mendaftarkan diri melalui jalur
tertulis bersama nasional dan tidak lolos juga. Tentu aku memasukkan jurusan
pendidikan matematika sebagai pilihanku juga. Kucoba juga ujian mandiri di
empat kampus dengan jurusan yang sama pun gagal juga padahal sudah menyambangi
kota Semarang untuk mengikuti tes tertulis. Ini percobaanku yang kelima. Selanjutnya
kuberanikan diriku yang tidak berprestasi ini mencoba jalur prestasi yang
berakhir tidak diterima juga. Kesempatan terakhirku atau yang ketujuh yaitu
ujian mandiri di universitas insyaallah islam dan beruntung diriku lolos
walaupun saat tes diriku tertidur sampai bermimpi pula. Sesuai yang aku
inginkan yaitu kuliah di pendidikan matematika untuk menggapai cita-citaku
sebagai guru matematika.
Dan sekarang aku di sini sudah menapaki cukup
banyak semester hingga sampai di semester enam Fakultas Filsafat. Tuhanku memang
Maha Asyik. Rencana Tuhan adalah plot twist bagi rencana kecil kita
walaupun sebenarnya sudah direncanakan sejak awal.
Comments
Post a Comment