Skip to main content

Menuju Masa Lalu



Kita tidak pernah sekali saja merasa lebih kecil kecuali pada kenikmatan  yang diterima orang lain. Bahkan kepada Tuhan sekalipun bagi kita yang percaya ada-Nya. Cobalah langkahkan kakimu menuju bingkai kayu yang menghubungkan rumah yang kau tinggali dengan dunia luar sana sembari memejamkan kedua bola mata. Pandanglah apapun yang ada di atas kepalamu. Sudah. Apa yang terlihat? Ah, aku lupa yang di atas sana pun terselimuti kepongahan hasil pembakaran mesin-mesin yang membawa kita menuju kepada sudut kota yang kumuh atau kepulan dari corong-corong gedung dekil itu atau bisa juga tertutupi beton-beton yang ditanam subur yang kita namakan kemodern-an. Kita tidak pernah melihat sesuatu yang lebih besar di atas sana sehingga selalu merasa besar lebih besar dari apapun itu.

Baru saja semalam diriku begitu takjub ketika menatap hamparan hitam di atas sana tergantung berbagai benda kemerlip menyebabkan ingatanku seketika terbawa menuju pada waktu tiga tahun kurang sedikit ketika pipiku ditampar lembut oleh hembusan angin di tengah laut Jawa pada sebuah kapal perintis. Kejumawaanku begitu saja rontok dengan satu kucek yang bagaikan kekuatan seribu tangan dihapadan karya pelukis Agung. Cantik. Inginku memiliki masterpiece itu supaya dapat kutatap setiap detik dalam hidupku.

Suatu saat akan kubawa gadis pilihan yang akan mendampingi hidupku menuju tempat di mana tidak ada kesombongan teknologi yang katanya canggih itu. Hidup berdampingan bersama masyarakat yang malu makan ketika orang di depannya kesulitan makan. Masyarakat yang mengambil secukupnya dari alam serta berteman dengannya. Yang membagikan hasil tanahnya kepada manusia lain di sampingnya. Tidak pernah dengan egois mengklaim sesuatu menjadi milik pribadi karena sejatinya semua milik alam atau sebut saja Tuhan. Ya, di tempat seperti itulah aku bisa melihat keagungan karya sang maestro seperti yang telah kusebutkan sebelumnya sehingga aku bisa merasa bahwa aku ini adalah makhluk yang sangat kecil dan tidak ada lagi ke-aku-an dalam diriku. Mungkin hal seperti itu ada di daerah pedalaman sana yang tersentuh revolusi industri 1.0 saja belum.

Ah, tapi gadis mana yang mau hidup di tempat tanpa sinyal untuk update instagram? Apalagi bersama manusia macam saya ini.

Comments

  1. ih jangan meragukan Allah. ehe.

    ReplyDelete
  2. Bacanya mau nangis :((((

    Nggak tahu kenapa. Kamu terlalu merendah, padahal firman-Nya sudah bilang bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...