Skip to main content

Mengasuh Pembunuh



Dunia ini merupakan tempat yang begitu riuh akan berbagai fenomena dengan berbagai macam manusia yang tinggal di dalamnya. Berbagai jalinan interaksi atau pertemuan atau persinggungan sebatas obrolan ringan hingga percakapan berat terjadi. Persilangan budaya, adat, kebiasaan, pakem-pakem sosial masyarakat berjalan di sana. Meski demikian, nyaris semuanya bergerak dalam satu irama, seragam, teratur, rapi, pasti, jelas, terjadwal dari Senin-Jumat lalu libur di akhir pekan untuk kembali bekerja di awal pekan. Tidak selesai begitu saja rutinitas itu berlangsung sejak Januari sampai Desember di akhir tahun dengan gerakan yang sama. Digunakannya pula angka-angka sebagai patokan untuk mengurangi resiko ketidakpastian yang dianggap tidak efisien sehingga menimbulkan kerugian karena waktu adalah uang.

Dari orok saat manusia dilahirkan sudah ditetapkan kapan si bayi ini akan masuk taman bermain lalu beranjak menuju taman kanak-kanak selama dua tahun penuh dilanjutkan bergabung dengan sekolah dasar yang bahkan tiga kali lipat lebih lama. Masih kurang jua ditambah lagi enam tahun di SMP dan SMA dan seterusnya hingga pensiun. Tanggal pembayaran sekolah, waktu gajian, saat bayar pajak atau tagihan atau kredit motor serta benda lainnya. Segalanya nyaris sama di Jogja, Bandung, Magelang, Makassar, maupun Planet Bekasi sana juga di tempat-tempat negara lain sehingga mereka akan banyak sepaham mengenai banyak hal karena memang hidupnya nyaris seragam dan teratur. Maka muncullah kebosanan. Dan manusia berusaha membunuhnya.

Padahal tidak ada yang salah dengan kebosanan yang timbul akan keseragaman hidup yang memang menjemuhkah hasil konstruksi sistem kapitalisme yang memaksa harus produktif di segala kondisi dan situasi. Kapitalisme yang mengondisikan manusia untuk individualis, netral, memenuhi permintaan pasar dan siap kerja. Tidak perlu dipaksakan untuk menjadi produktif atau kreatif maupun untuk berbakat, mari nikmati waktu luang menyesap kebosanan.

Comments

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...