Skip to main content

Manusia Sombong Berencana, Tuhan Kuasa Menentukan


Masih nikmat bergelut dengan tahun dua nol satu sembilan, bahkan dua bulan masih tersisa bagi manusia gondrong berpenampilan tak menarik sepertiku. Anggap saja delapan minggu masih harus dilalui, sekitar 60 hari musti ditapaki, dan ribuan jam yang malas kuhitung wajib dijalani. Namun, setumpuk project untuk tahun dua nol dua nol telah menggunung sebagaimana baju-baju kotor milikku yang selalu kulempar menuju ember sudah menghampiri. Yang nantinya dicuci mamakku. Jangan terlalu berpikir positif bahwa aku yang akan mencucinya.

Pengabdi rebahan yang berlagak punya banyak kegiatan seabrek ini berusaha seminimal tenaga menjalani berbagai tanggungjawab project yang diterimanya. Meskipun jarak menuju waktu kegiatan masih begitu jauh. Bisa dikatakan masih berada di Kota Sabang apabila kita misalkan sedang melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dari ujung barat ke ujung timur. Tapi ya begitulah manusia sombong dengan segala tetek bengek rencananya termasuk pria berambut panjang tak teratur ini.

Dia lupa bahwa ada Yang Maha Kuasa untuk menentukan. Menentukan segalanya. Termasuk project kecil si manusia gondrong yang rambutnya tak beraturan dan merasa penampilannya tidak menarik yang tak sebanding dengan penciptaan jagat raya yang juga masih sangat kecil ketika disandingkan dengan Yang Maha Kuasa itu sendiri. Cukup dengan ciptaan-Nya tak terindra mata makhluk sombong yang berencana itu berbagai project terancam gagal bahkan sudah ada yang dibatalkan.

Begitulah, mungkin ada yang harus dibenahi dari pepatah “Manusia berencana, Tuhan menentukan” menjadi “Manusia Sombong Berencana, Tuhan Kuasa Menentukan”. Niscaya ada kesombongan di sana.

Selalu setelah terjadi sesuatu yang baginya buruk manusia akan berdoa “Tuhan semoga ini menjadi sesuatu yang terbaik bagi saya”. Berdoa pun masih bisa begitu sombongnya manusia lemah yang tidak bisa menghadapi makhluk yang tak tertangkap penglihatannya itu . Ketahuilah ketentuan Tuhan tak pernah tidak yang terbaik.

Comments

  1. APIK PUOOLLLLL JUDULNE!


    Tapi, bukankah isinya sangat menyinggung kita semua?????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwooo terima kasih~

      Kalau tersinggung berarti dapat pembelajaran hehe

      Delete
  2. that "Pengabdi rebahan yang berlagak punya banyak kegiatan" apik mas👌

    ReplyDelete
  3. Man proposes, God disposes! terima kasih telah berbagi

    ReplyDelete
  4. sepertinya memang kata "sombong" sudah selayaknya ada dalam kamus "cara menjadi manusia"...

    ReplyDelete
  5. 'Kettahuilah ketentuan Tuhan tak pernah tidak yang terbaik.'
    Terima kasih, tulisannya bagus bangett!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwu sama-sama kak terima kasi apresiasinya uwu~

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...