Apalagi di dunia ini yang rumit bin ruwet
selain pertemuan ribuan kabel di atas langit-langit persimpangan jalan di kota
yang berdiri sebelum punya ahli tata ruang kota? Mungkin hubungan antara
manusia satu dengan manusia yang lainnya. Bukan ruwet bin rumit tapi lebih
tepatnya dibikin sedemikian rupa menjadi mbulet. Bayangkan saja manusia
ini sudah jelas mereka sama-sama manusia kok malah menyematkan label terhadap
manusia lain supaya terlihat berbeda. Apakah dengan begitu lantas manusia lain
itu menjadi bukan manusia? Kan enggak juga.
Nasi sudah menjadi bubur yang dimasak oleh
orang yang tidak bisa memasak jadi bubur dengan rasa asing di lidah. Kalau orang
bisa masak kan buburnya enak. Label-label perbedaan itu yang menempel hanya
untuk menumbuhkan rasa sebagai manusia yang lebih baik dari manusia yang lain
itu dengan segera menyuburkan benih-benih virus kebencian. Manusia ini membenci
manusia itu padahal satu spesies sapiens. Begitu selo-nya
manusia-manusia ini sehingga membuat masalah supaya ada kegiatan.
Sebagai manusia yang begitu lemah dihadapan
Tuhan ini hampir lupa diriku apakah pernah ada yang membenciku. Mungkin detik
ini pun di luar sana ada begitu banyak orang yang membenciku hanya saja aku
tidak tahu dan tidak ingin tahu. Bagiku setiap orang sama saja mau yang
membenciku ataupun tidak menyukai atau juga keduanya tidak mengubah sikapku
ketika menghadapi mereka. Aku akan berusaha adil terhadap mereka sebagai sesama
manusia. Bencilah kepada sifatnya, bukan manusianya sehingga ketika manusia itu
menjadi lebih baik kita dapat menerimanya.
Comments
Post a Comment