Skip to main content

Makhluk Berlabel Manusia



Apalagi di dunia ini yang rumit bin ruwet selain pertemuan ribuan kabel di atas langit-langit persimpangan jalan di kota yang berdiri sebelum punya ahli tata ruang kota? Mungkin hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lainnya. Bukan ruwet bin rumit tapi lebih tepatnya dibikin sedemikian rupa menjadi mbulet. Bayangkan saja manusia ini sudah jelas mereka sama-sama manusia kok malah menyematkan label terhadap manusia lain supaya terlihat berbeda. Apakah dengan begitu lantas manusia lain itu menjadi bukan manusia? Kan enggak juga.

Nasi sudah menjadi bubur yang dimasak oleh orang yang tidak bisa memasak jadi bubur dengan rasa asing di lidah. Kalau orang bisa masak kan buburnya enak. Label-label perbedaan itu yang menempel hanya untuk menumbuhkan rasa sebagai manusia yang lebih baik dari manusia yang lain itu dengan segera menyuburkan benih-benih virus kebencian. Manusia ini membenci manusia itu padahal satu spesies sapiens. Begitu selo-nya manusia-manusia ini sehingga membuat masalah supaya ada kegiatan.

Sebagai manusia yang begitu lemah dihadapan Tuhan ini hampir lupa diriku apakah pernah ada yang membenciku. Mungkin detik ini pun di luar sana ada begitu banyak orang yang membenciku hanya saja aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Bagiku setiap orang sama saja mau yang membenciku ataupun tidak menyukai atau juga keduanya tidak mengubah sikapku ketika menghadapi mereka. Aku akan berusaha adil terhadap mereka sebagai sesama manusia. Bencilah kepada sifatnya, bukan manusianya sehingga ketika manusia itu menjadi lebih baik kita dapat menerimanya.

Comments

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...