Skip to main content

Kelas Bercanda



Hidup begitu lucu dan hanya itu yang kita punya. Dengan lancang sedikit kuubah kalimat “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” dari judul buku Dea Anugrah yang kukira perempuan ternyata mirip oppa korea. Walau hidup adalah permainan, walau hidup adalah hiburan. Tetapi kami tak mau dipermainkan, dan kami juga bukan hiburan. Begitu kalau kata mbah Iwan Fals. Hidup ini sebuah candaan yang tak mampu dituliskan. Tapi aku dipaksa juga menuliskannya. Hidup ini brengsek dan aku dipaksa menikmatinya, mas Puthut Ea mengumpat. Ya, begitulah hidup.

Mari kita coba menulis komedi yang mungkin akhirnya melahirkan tulisan tragedi.

Tes satu… dua… tiga… yak…

Hah…

Bingung tenan…

Begini mari kita mulai dengan latar waktunya dahulu. Jadi, pada masa pandemi ini sangat dianjurkan #dirumahaja mau #workfromhome #schoolfromhome atau #anythingfromhome lah ya. Tidak terlalu sedikit manusya yang mulai bosan menjalaninya. Bahkan untuk bosan saja sudah bosan karena terlalu bosan untuk bosan. Untungnya sekarang ponsel pintar memiliki banyak fitur untuk menghilangkan rasa bosan, salah duanya dengan bermain tiktok atau permainan tetapi kami tak mau dipermainkan. Maunya main aja gitu deh. Yasudah sekarang lagi hype main tebak gambar secara daring. Teman saya yang namanya sama dengan sutradara kenamaan Indonesia itu lo Garrin Nugroho mengundang untuk bermain. Kurang ajarnya ternyata ada salah satu dosen yang ikut. Wah tidak bisa misuh-misuh ini umpatku dalam hati.

Mulai permainan.

M for Mahasiswa
D for Dosen

M1       : (menggambar)
M2       : “Ayam.”
D         : “Bebek.”
M3       : “Ayam.”
M1       : (menggambar petunjuk lain)
M3       : “Ayam kecil.”
M2       : “Oposih?”
M3       : “Iso gambar ra e?”
D         : “Ayam bakar.”
D         : “Ayam kampu.”
D         : “Ayam kampung.”
M1       : (menambah petunjuk)
M2       : “Dah lah.”
D         : “Ini mahasiswa lama-lama saya DO lo!”
M3       : “wqwq DO aja pak~” (sambil ketawa ngakak beneran)

Seketika aku ketawa terpingkal-pingkal. Aku jamin teman-temanku yang lain juga begitu. Betapa kzl nya menebak gambar jelek yang susah dimengerti itu. Bisa menggambar tidak?

Tapi sebentar coba kita hayati candaan yang barusan dilemparkan oleh pak dosen. Ngeri sadap benar candaan aja harus dihayati. Bayangkan jika tidak ada kelas apakah joke tersebut akan dilontarkan? Kelas di sini maksudnya kelas sosial ya gais, coba baca Sosialisme Marxisme nya Karl Marx. Ada pertentangan kelas dalam candaan itu burjouis (dosen) dengan proletar (mahasiswa) dengan dosen yang mendominasi. Bapak dosen yang merasa memiliki kuasa untuk men-DO mahasiwanya. Relasi kuasa antara dosen dengan mahasiswa yang diibaratkan atasan dengan bawahan. Mbah Foucoult paham sekali ini. Selain itu ada anggapan di sini bahwa gambar jelek bukanlah sebuah gambar. Gambar harus mirip realita yang sesungguhnya. Begitulah yang tertanam dalam otak kita yang sudah terbunuh imajinasinya semenjak gambar pemandangan adalah dua gunung dengan jalan di tengahnya yang diiringi sawah hijau disinari matahari di tengah gunung yang diajarkan saat masih duduk di Taman Kanak-kanak. Anjay ini kenapa malah jadi analisis sosial ya?

Maafkan tulisan komedi saya yang menjelma tragedi ini. Saya sudah mewanti-wanti dari awal ya.

Comments

  1. Setidaknya membaca ini dapat sedikit ilmu baru tentang pandangan kelas sosial. Terima kasih!

    ReplyDelete
  2. kalo versiku, ada awan sama burung hitamnya sih kak

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...