“Ketika
kita menggunakan topeng dan orang lain tidak suka, itu adalah masalah kita.
Ketika kita tidak menggunakan topeng dan orang lain tidak suka, itu adalah
masalah mereka.”
Kurang lebih begitulah kutipan dari Tere Liye dalam
status facebook-nya yang dulu kukira perempuan ternyata bernama asli mas
Darwis. Salah satu dari beberapa kutipan yang kugunakan sebagai prinsip dalam
melakukan hubungan dengan manusia lain sehingga aku bisa berekspresi dengan
lebih leluasa tanpa perlu meribetkan diri untuk menanggapi komentar yang keluar
dari mulut lamis mereka.
“Seorang
terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”
Kukira hampir setiap orang yang mengikuti hiruk
pikuk dunia pernovelan dan perfilman kenal dengan kalimat di atas yang mulai
nge-tren sejak tahun 2017 ketika novel Bumi Manusia-nya mbah Pram naik daun saat
itu dan akan dijadikan sebuah film layar lebar juga. Sebuah kalimat yang begitu
menonjokku sebagai mahasiswa karena merasa sebagai orang terpelajar namun
sering tidak adil sejak dalam pikiran terutama ketika bersosialisasi dengan
orang lain. Sering muncul sebuah stereotipe dalam otak hanya dengan melihat
cara orang berpakaian. Sudah muncul berbagai macam pikiran tentang orang tersebut
seperti tertulis jelas di dahinya padahal itu belum tentu. Mulai saat itu aku
berhati-hati untuk menilai seseorang dan berusaha bersikap tidak membedakan
kepada setiap orang. Sehingga pernah seorang perempuan yang menganggapku teman
memberi label “cowok go green” kepadaku karena aku baik kepada semua
orang. Itu pendapatnya ya atau ada motif lain aku juga tidak tahu.
Dengan begitu aku menjadi bebas untuk
berinteraksi dengan siapapun dan kelompok manapun ketika aku memang
membutuhkannya. Tidak ada sekat tidak ada larangan. Aku berhubungan dengan
manusia lain dilandasi sebuah kebutuhan bukan ikatan emosional. Dengan laki-laki
maupun perempuan tidak ada masalah. Aku bisa dengan mudah masuk dalam lingkaran
manapun. Namun entah secara sadar atau tidak aku sering terjebak hubungan
dengan perempuan secara individu maupun kelompok. Terkadang aku seorang saja
yang laki-laki di antara beberapa perempuan. Sering kutemui kondisi seperti
itu.
Satu yang jelas adalah ketika berhubungan
dengan manusia baik itu laki-laki maupun perempuan aku mencoba menerapkan
hal-hal di atas. Mungkin hal itu menyebabkan aku tidak memiliki hubungan “pertemanan”
seperti manusia normal lainnya. Yang sering membuatku menobatkan diri sebagai
orang yang tidak punya “teman”. Tapi bersyukur juga banyak orang yang
menganggap diriku teman. Aku adalah apa yang orang lain anggap.
“Teman
atau musuh? Biar kalian yang menentukan.”
dulu kukira Tere Liye juga perempuan
ReplyDeleteDulu kukira kamu~
DeleteTEMANN!! tapi musuh
ReplyDeleteAh, sepemikiran~
DeleteAku lebih suka memanggilnya Mas Pram hehe
ReplyDeleteAduh gaberani saya~
DeleteJadi, apakah kita teman?
ReplyDeleteKamu yang menentukan :p
Deleteaku masuk ke barisan yang dulu mengira Tere Liye perempuan. btw sebutan cowok go green lucu juga....
ReplyDeleteSelamat bergabung~
Deletewqwq lucu tapi digunakan buat nyindir~
hmm, oke toss 🖐️
ReplyDeleteNgopooo? Nyoh tosss~
Delete