Skip to main content

Berbeda Memang Kita Berbeda


The loneliest people are the kindest,
The saddest people smile the brightest,
The most damaged people are the wisest,
All because they don’t wish to see anyone else suffer the way they did.

Percayakah kalian kepada setiap mimik wajah yang tersirat ketika tatap kedua mata saling bertemu pada titik di antara dua insan? Itukah tampak yang sebenarnya ataukah hanya yang ingin diperlihatkannya? Mungkin juga cuma itu yang bisa dipamerkannya, bisa pula itu sesuatu yang ingin dilihat orang lain. Apapun itu cukup nikmati saja sensasinya dan bersiap tertipu.

Terlalu sering aku mendapati diriku cemburu terhadap orang lain. Bukan dikarenakan barang atau harta yang mereka punyai melainkan cara mereka yang dengan seenaknya dapat mengekspresikan segala emosi yang ada dalam diri orang-orang itu. Betapa bebasnya mereka tanpa beban tanpa perlu risau mengeluarkan gelak tawanya. Ah, setelah kupikir aku pun sering melakukan itu. Tapi satu ini yang paling membuatku iri. Bagaimana bisa manusia-manusia itu secara entengnya menumpahkan air mata yang menyusuri lekukan pipi lalu bermuara di manapun ia berkenan, menyampaikan bela sungkawa, merasa turut berduka atas kepedihan manusia lainnya, menjerit kepada ketidakberuntungan mereka, serta atas setiap luapan ekspresi kepahitan yang diterima. Berhak kah aku sedih? Tapi aku tidak bisa.

Aku paling benci ketika berhadapan dengan rasa sedih. Bukan karena rasa sedih membuat aku tersakiti. Namun sebab aku sendiri tidak dapat melakukannya dengan benar. Pernah seorang jauh di sana menghubungiku melalui telepon genggamnya pada tengah malam. Terdengar isak tangisnya sembari mengisahkan bahwa laki-laki yang berbulan-bulan ini begitu dekat dengannya dijodohkan oleh orang tuanya dan segera melangsungkan pernikahan. Aku hanya terdiam mendengarkannya menangis dan berkeluh tanpa bisa melakukan hal lainnya. Aku tidak pernah bisa menghentikan tangis seseorang. Jangan paksa aku bangsat!!!

Sempat aku bertanya kepada seorang yang menganggapku teman. Apakah aku harus sama seperti khalayak lain untuk bersedih? Apakah yang kulakukan bukan termasuk ekspresi kesedihan? Bagaimana jika orang lain menganggap aku tidak punya hati hanya karena caraku menyampaikan kesedihan berbeda dengan mereka? Mungkin aku memang tidak punya hati.

Sehingga terkadang aku khawatir ketika waktunya orang tuaku meninggal namun aku sendiri tidak merasakan kesedihan. Tentunya jika bukan aku duluan yang mati.

Comments

  1. Ini maksudnya mau bilang kalau jenengan kuat gitu, Mas? :") Wqwq

    ReplyDelete
  2. jan jane, you don’t feel sad doesn’t mean that you have become ra ndue ati or something like that gais alias it’s just that the situations have made you stronger and now you are able to face any tough thing in life hihi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...