Sosialisme memimpikan sebuah dunia di mana semua
orang terbebas dari belenggu dominasi dan penindasan berbasis kondisi
materialnya – ketertindasan kelas dalam berbagai bentuknya di ranah politik,
ekonomi, sosial, dan budaya. Sebuah dunia di mana tiap-tiap kita dapat
menjalani dan menghidupi hidup kita secara merdeka, bermartabat, dan
bertanggung jawab, berdasarkan semangat solidaritas kepada sesama. Berlawanan
dengan kesalahpahaman yang populer di masyarakat kita, sosialisme tidak
mengampanyekan kebersamaan dan kesetaraan dalam kemiskinan dan despotisme. Jauh
dari itu, yang diperjuangkan oleh kaum sosialis yang berpegang kepada
prinsip-prinsip ilmiah dan pembacaan yang kontekstual adalah kesetaraan
dalam keberlimpahan. Sebuah situasi di mana kita bisa hidup sebagai,
mengutip kata-kata kaum Kiri Arab, ‘rakyat yang bahagia’ di ‘tanah yang
merdeka.’ Singkat kata, sosialisme adalah manifestasi tertinggi dari demokrasi.
Ketika membicarakan sosialisme sekilas yang
terpikirkan pastilah Karl Marx dengan Marxisme nya bagi manusia-manusia yang
mempelajari studi tentang sosisal-humaniora. Dikarenakan memang begitulah yang
disepakati dalam dunia intelektual. Dunia barat yang memiliki tradisi tulis
menulis dengan baik dapat mengarsipkan pemikiran-pemikiran seseorang sehingga dapat
dikenal banyak orang. Namun berabad-abad sebelum kelahiran Karl Marx sudah
hidup seorang sosialis sejati yaitu Muhammad yang lebih dikenal dengan pembawa
islam daripada pemikiran sosialisnya.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Nabi
Muhammad bahwa beliau tidak pernah menyisihkan dinar maupun dirham baginya
untuk dibawa pulang. Hal tersebut dikarenakan Rasulullah selalu memberikan
harta yang dimilikinya kepada umat. Bahkan ketika beliau tidak memiliki apapun
lagi diambilkannya dari cadangan makanan di dalam penyimpanannya. Tidak ada
orang yang meminta kepada Nabi Muhammad SAW kecuali diberikan sesuatu untuk
dibawa pulang.
Pada awal penyebaran islam di Makkah pun terjadi
penolakan oleh masyarakat yang borjuis dan kapitalis. Mereka lebih takut akan
konsekuensi dari ajaran islam yang egaliter
yang melawan segala bentuk dominasi ekonomi, pemusatan dan monopoli
harta, penimbunan dan pemborosan serta perbudakan. Dalam islam juga dikenal konsep shodaqoh dan
zakat sebagai pendistribusian harta dari yang kaya kepada yang miskin. Dengan
demikian, Muhammad hadir di tengah masyarakat bukan sekedar mengajarkan
kepatuhan kepada Tuhan atas wahyu yang dibawanya. Namun, Muhammad juga
memobilisasi dan memimpin masyarakat untuk melawan ketimpangan sosial. Dalam
iklim masyarakat kapitalistik-eksploitatif, Muhammad bersama para pengikutnya
kaum tertindas berjuang untuk menyuarakan persamaan, persaudaraan, dan
keadilan.
Comments
Post a Comment