Untuk menuju pada suatu titik bernama akhir sebuah
perjalanan selalu ada yang namanya awal. Tak akan pernah tercapai sesuatu yang
tidak diawali. Awal setiap manusia itu berbeda tidak selalu bermula di garis
yang sama pun waktu yang beragam juga. Dengan membawa berbagai motivasi yang
beraneka ragam macamnya. Kali ini bukan tentang perjalanan menghampiri suatu
tempat yang indah atau negeri asing jauh di sana melainkan perjalanan bagaimana
manusia aneh yang tidak berbakat ini mulai menulis dikarenakan dalam setiap
perjalanan niscaya ada pembelajaran di dalamnya walau sekecil apaun itu.
Manusia yang tidak memiliki bakat ini selalu
saja menaruh rasa iri dalam hatinya kepada manusia-manusia lain yang berbakat. Pertanyaan-pertanyaan
bodoh kerap terlintas dalam dirinya yang tidak sama dengan sekitarnya. Pencarian
bakat pun ia mulai dengan mencoba berbagai hal yang menarik utnuk dikerjakan. Ini
bukan ajang pencarian bakat yang ada di televise-televisi swasta nasional itu
ya. Mulai dari belajar bermain drum, bergitar, meniup trombone, menggambar, serta
kemampuan-kemampuan lainnya. Namun tidak pernah selesai ia belajar selalu saja
terhenti di tengah jalan seperti keinginannya untuk menulis yang terhenti di paragraph
ketiga tanpa dapat dilanjutkannya tulisan itu walupun sempat beberapa
tulisannya dia unggah di blog pribadinya. Akhirnya manusia ini kembali menjadi
penikmat saja tenggelam bersama impian-impian setinggi langitnya.
Jangan meremehkan penikmat yang tidak bisa
apa-apa ini. Dengan kesadaran bahwa ia tak bisa melakukan apapun namun harus
menjadi penikmat membuatnya juga harus sedikit mempelajari yang dinikmatinya. Sedikit
demi sedikit mengikuti kegiatan menulis gratis, menonton konser gratisan atau
yang tiketnya murah, bergabung dengan orkestra SMA-nya dulu supaya bisa diajari
musik, belajar berbagai pemikiran melalui siarang langsung media sosial dengan
memanfaatkan wifi publik yang gratis, pun mengandalkan diskonan yang
muncul karena adanya wabah yang melanda dunia untuk mengikuti kelas online
gratis.
Yah, intinya manusia tanpa bakat ini masih
menulis secara malas-malasan sesuai kebutuhan saja dengan terpaksa. Menulis itu
sebuah keterampilan layaknya memasak yang dilakukan ketika butuh makan, menulis
pun demikian dilakukan saat butuh menulis. Bisa memasak tidak lantas harus
menjadi koki, pun dapat menulis tak selalu untuk menjadi penulis.
memang perjalanan pulang ke diri sendiri begitu panjang dan melelahkan betul ya. semoga, semoga lekas...
ReplyDelete