Skip to main content

Ada Apa Dengan Perjalanan?


Untuk menuju pada suatu titik bernama akhir sebuah perjalanan selalu ada yang namanya awal. Tak akan pernah tercapai sesuatu yang tidak diawali. Awal setiap manusia itu berbeda tidak selalu bermula di garis yang sama pun waktu yang beragam juga. Dengan membawa berbagai motivasi yang beraneka ragam macamnya. Kali ini bukan tentang perjalanan menghampiri suatu tempat yang indah atau negeri asing jauh di sana melainkan perjalanan bagaimana manusia aneh yang tidak berbakat ini mulai menulis dikarenakan dalam setiap perjalanan niscaya ada pembelajaran di dalamnya walau sekecil apaun itu.

Manusia yang tidak memiliki bakat ini selalu saja menaruh rasa iri dalam hatinya kepada manusia-manusia lain yang berbakat. Pertanyaan-pertanyaan bodoh kerap terlintas dalam dirinya yang tidak sama dengan sekitarnya. Pencarian bakat pun ia mulai dengan mencoba berbagai hal yang menarik utnuk dikerjakan. Ini bukan ajang pencarian bakat yang ada di televise-televisi swasta nasional itu ya. Mulai dari belajar bermain drum, bergitar, meniup trombone, menggambar, serta kemampuan-kemampuan lainnya. Namun tidak pernah selesai ia belajar selalu saja terhenti di tengah jalan seperti keinginannya untuk menulis yang terhenti di paragraph ketiga tanpa dapat dilanjutkannya tulisan itu walupun sempat beberapa tulisannya dia unggah di blog pribadinya. Akhirnya manusia ini kembali menjadi penikmat saja tenggelam bersama impian-impian setinggi langitnya.

Jangan meremehkan penikmat yang tidak bisa apa-apa ini. Dengan kesadaran bahwa ia tak bisa melakukan apapun namun harus menjadi penikmat membuatnya juga harus sedikit mempelajari yang dinikmatinya. Sedikit demi sedikit mengikuti kegiatan menulis gratis, menonton konser gratisan atau yang tiketnya murah, bergabung dengan orkestra SMA-nya dulu supaya bisa diajari musik, belajar berbagai pemikiran melalui siarang langsung media sosial dengan memanfaatkan wifi publik yang gratis, pun mengandalkan diskonan yang muncul karena adanya wabah yang melanda dunia untuk mengikuti kelas online gratis.

Yah, intinya manusia tanpa bakat ini masih menulis secara malas-malasan sesuai kebutuhan saja dengan terpaksa. Menulis itu sebuah keterampilan layaknya memasak yang dilakukan ketika butuh makan, menulis pun demikian dilakukan saat butuh menulis. Bisa memasak tidak lantas harus menjadi koki, pun dapat menulis tak selalu untuk menjadi penulis.

Comments

  1. memang perjalanan pulang ke diri sendiri begitu panjang dan melelahkan betul ya. semoga, semoga lekas...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia Terbalik

Bukan sinetron bukan pula sitkom atau serial komedi atau tayangan di salah satu stasiun televise swasta yang kental akan budaya patriarki dengan membagi-bagi peran pekerjaan bahwa seolah-olah sebuah pekerjaan hanya milik satu jenis kelamin saja sehingga menganggap bahwa dunia sudah terbalik. Bukan itu. Ini tentang bagaimana manusia sebagai hamba kemah yang terbolak-balik dalam bersikap. Yang seharusnya dilakukan malah ditinggalkan. Di sebuah negeri festival-festivalan yang mengagungkan simbol daripada esensi ini banyak hal dipahami secara terbalik. Apalagi di momen Ramadhan yang bersamaan dengan pandemi seperti ini menjadi sangat jelas terlihat. Atas nama tradisi maka dipaksakan terselenggaranya ibadah-ibadah sunah seperti shalat Tarawih dan buka bersama yang mengumpulkan banyak massa. Padahal hal ini sangat membahayakan. Sedangkan menuntut ilmu atau lebih dikenal dengan ngaji yang bersifat wajib malah ditiadakan bahkan tidak ada yang menolak ketika ditiadakan. Beginilah terbo...

Di Sini Lagi

Ah sial, aku kembali ke sini lagi. Terbangun dari tidur yang kuinginkan adalah bersama istri serta kedua anak-anakku yang bermain di halaman belakang bukan di tepi samudra dengan tebing yang mengerikan seperti ini. Harus sebanyak apa aku kembali ke tempat menyebalkan ini? Jika bukan karena uang tidak akan kulakukan. Kupikir hanya dalam dongeng berdiri kokoh sebuah kastil di pinggiran tebing di tepi samudra dan kini ia di depan mataku. Hanya orang bodoh saja yang penasaran dengan sebuah kastil gelap lalu memasukinya untuk mengecek. Aku termasuk ke dalamnya. Tiap-tiap lorong kususuri dan kulakukan apapun yang butuh kukerjakan ketika perempuan yang meninggalkanku berdiri di hadapanku bersama dengan pisaunya lalu menikamku. Aku benci ini. Sakit. Begitu sakit rasanya mati. Oh, ternyata aku sedang menonton sebuah drama rekaan sutradara yang begitu terkenal sehingga menjadi terlalu mainstream jika mengidolakannya. Pun aku bukanlah seorang yang terlalu tergila-gila dengan pertunjukan s...