Warisan cita-cita
Takdir waktu
Dan impian
manusia merupakan hal yang tak bisa dihentikan
Selagi manusia
masih mencari makna kebebasan
Mereka tidak
akan pernah berhenti!!!
Semenjak kecil tak pernah sedikitpun berubah
impianku yang diwariskan oleh entah siapa terhadap diriku yang lemah ini
walaupun dengan berbagai modifikasi serta penyesuaian di sana sini bahkan
penambahan yang begitu merepotkan untuk diwujudkan. Seorang bocah naif yang berharap
bisa memberikan kontribusi perbaikan pada pendidikan di negerinya dengan
menjadi guru matematika yang tidak merdeka sama sekali. Bahkan institusi yang
melahirkan pendidik-pendidik yang akhirnya menjadi guru itu pun masih terjajah
oleh sistem yang dilanggengkan negara. Betapa kompleks permasalahan negeri ini
meskipun baru dilihat dari satu bidang saja belum yang lainnya.
Setiap perjalanan pasti memberikan sebuah
pembelajaran di dalamnya sekecil apapun itu. Maka ada sebuah kenyataan miris
yang kuketahui tentang kondisi guru-guru sekolah formal di Indonesia membuat
cita-citaku terhenyak seolah taka da harapan. Bagaima bisa membuat seseorang
merdeka ketika dirinya saja masih terjajah? Pikirku begitu menjadi seorang guru
sekarang. Siapa yang dapat membebaskan mereka? Tentunya yang memiliki kuasa
dalam bidang tersebut yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Terlalu ambisius
mungkin harapan menjadi salah satu jajaran pejabat tinggi tersebut. Tetapi akan
kucoba tak peduli seberapa susahnya walaupun dengan banyak malas-malasan
kuusahakan.
Lagi-lagi aku dihadapkan pada realita pahit
bahwa pembantu presiden dipilih berdasarkan hak prerogatif sang pembantu umum
negara tersebut. Tentu saja diriku harus dikenal oleh sang presiden atau
orang-orang dalam lingkarannya. Ah, siapa aku ini manusia dekil dari daerah
terpencil berharap bisa dikenal seorang pembantu yang mengurusi sebuah negara
sebesar Indonesia.
Hingga suatu ketika salah satu rekan diskusiku
semasa SMA yang berimajinasi sebagai presiden lalu aku sebagai Menteri
Pendidikannya memberikan sebuah pernyataan yang cukup membuatku optimis. Bermula
ketika kutanya bagaiman perkembangan usahanya menggapai posisi presiden. Aku
sudah tidak berambisi menjadi presiden katanya. Cukup menjadi orang yang
mempunyai pengaruh setara bahkan melebihi presiden. Tak perlu sebuah jabatan. Dan
di sinilah aku akhirnya tetap dengan harapanku dapat berkontribusi untuk
pendidikan Indonesia supaya manusianya termasuk akan benar-benar merdeka dan berdikari.
Nina suka kalimat ini, "Cukup menjadi orang yang mempunyai pengaruh setara bahkan melebihi presiden" :)
ReplyDeleteTerima kasih inspirasinya, Mas Pur!